Oleh: Parwati, S.Ag
Setiap orang pernah berdoa. Doa yang dilaksanakan oleh setiap orang berbeda juga, sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), doa adalah permohonan (harapan, permintaan, dan pujian) kepada Tuhan.
Bagaimana makna doa dalam agama Buddha?Apakah meminta sesuatu kepada Buddha, Bodhisattva, atau para Dewa? Doa dalam agama Buddha bukanlah meminta sesuatu kepada Buddha, Bodhisattva, para Dewa atau siapapun. Konsep berdoa lebih menekankan pada konsep hukum karma. Apa yang kita alami saat ini adalah hasil dari apa yang kita perbuat pada masa lampau.
Jika doa diartikan sebagai meminta, maka jika apa yang kita minta tidak terwujud, maka akan menimbulkan rasa kecewa dan penderitaan.
Dalam agama Buddha, doa merupakan pujian dan harapan."Berdoa berisi harapan dan pujian kepada Tuhan, Triratna serta para Bodhisattva (Sulan;81). Doa diawali dengan Namaskara Patha, dilanjutkan dengan harapan. Doa dilakukan sebelum dan sesudah melaksanakan kegiatan, misalnya: sebelum belajar, sesudah belajar, sebelum makan, sesudah makan, sebelum, dan sesudah melaksanakan kegiatan tertentu. Doa yang diucapkan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan tidak tetap dalam agama Buddha, tetapi fleksibel, sesuai harapan dari umat yang berdoa tersebut. Umat Buddha tidak harus selalu sama dalam mengucapkan doa saat sebelum dan sesudah melakukan kegiatan. Contoh doa sebelum belajar:
"Arahang Samma sambuddho Bhagava Buddhang Bhagavantang Abhivademi
Svakato bhagavata dhammo dhammang namassami
Supatipanno bhagavato savakasangho sanghang namami
Terpujilah Tuhan Yang Maha Esa,kami memuji Buddha, Dhamma, Sangha
Terpujilah Para Bodhisattva dan Maha satva.
Semoga hari ini saya dapat belajar dengan baik untuk menjadi anak yang pandai dan berbudi luhur. Semoga semua makhluk hidup bahagia. Sadhu sadhu sadhu".
Nah, itu salah satu contoh doa sebelum belajar.
Apakah sebagai umat Buddha wajib mengucapkan seperti doa contoh tersebut? Jawabannya adalah tidak. Doa boleh berbeda ucapannya, tidak harus diawali dengan Namaskara Patha, boleh diawali dengan Vandana atau mungkin paritta/mantra yang lain, baru dilanjutkan dengan harapan. Apakah harus diawali dengan paritta yang berbahasa Pali? Tidak juga, boleh menggunakan bahasa yang kita gunakan sehari-hari, bahkan bahasa daerah juga boleh.
Nah, sekarang akan timbul pertanyaan lagi. Lalu apakah doa sama dengan Paritta? Mari kita pahami bersama. "Paritta (bahasa Pali), yang biasanya diterjemahkan sebagai perlindungan atau penjagaan, merujuk kepada tradisi agama Buddha yaitu kegiatan pembacaan ayat-ayat atau kitab-kitab suci tertentu yang bertujuan untuk menangkal kesialan, keburukan, dan mara bahaya (id.wikipedia.org/Wiki/Paritta)."
Mengacu pada penjelasan tersebut diatas, maka paritta merupakan bagian dari ajaran Buddha yang merujuk pada Kitab Suci. Sebagian dari Paritta yang ada dalam buku paritta adalah syair yang diberikan oleh Sang Buddha, ada juga yang berasal dari murid Buddha, dan ada juga yang disusun oleh para Bhikkhu.
Paritta yang dilafalkan isinya sama. Misalnya: Paritta Tisarana. Dimanapun umat Buddha berada, jika melafalkan Paritta Tisarana, ya isinya sama. "Buddhang saranang gachami, Dhammang saranang gachami, Sanghang saranang gachami
Dutiyampi Buddhang saranang gachami, Dutiyampi Dhammang saranang gachami
Dutiyampi Sanghang saranang gachami
Tatiyampi Buddhang saranang gachami
Tatiyampi Dhammang saranang gachami
Tatiyampi Sanghang saranang gachami"
Paritta dilafalkan saat pelaksanaan kebaktian/puja bhakti. Isi dari Paritta/Sutta dalam agama Buddha ada yang berisi penghormatan, tekad melakukan lima sila, pancaran cinta kasih, pemberkahan. Umat Buddha melafalkan Paritta pada saat upacara-upacara tertentu. Banyaknya jenis Paritta, maka Pembacaan Paritta dapat dipilih sesuai dengan upacara yang dilakukan. Misalnya: Paritta yang dibaca saat memperingati hari raya Waisak, berbeda dengan jenis Paritta yang dibacakan saat memperingati ulang tahun seseorang.
Jadi dapat disimpulkan bahwa doa dan Paritta dalam agama Buddha ada perbedaanya. Kalau doa berisi pujian dan harapan, tidak terikat isinya, tetapi kalau Paritta berisi syair-syair yang sebagian berasal dari Sang Buddha, murid Buddha, maupun para Bhikkhu. Paritta digunakan saat puja Bhakti/kebaktian umum maupun saat memperingati peristiwa-peristiwa tertentu, dan pembacaan Paritta juga dapat dipilih sesuai dengan peristiwa yang diperingati.
Semoga tulisan ini dapat bermanfaat. Semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu sadhu sadhu