Oleh : Jeminah, S.Pd., M.M.Pd.
Mendengar kata “puasa” pasti teringat takjil/makanan? Mendengar kata tersebut, pasti langsung membayangkan saudara kita umat muslim. Lantas, apakah agama Buddha ada puasa? kapan dan bagaimana?
Jika merujuk dari arti kata, “Puasa” dalam agama Buddha berasal dari bahasa sansekerta yaitu “upavasa” yang akhirnya disebut Uposatha. Uposatha ini berarti bahwa umat Buddha akan melatih pintu karma yang tercipta dari 5 indria (batin/jasmani). Bisa dikatakan bahwa dengan ber-Uposatha, umat Buddha akan berlatih menghindari kesenangan duniawi dalam waktu tertentu.
Semua agama mengajarkan umatnya tentang puasa sebagai bentuk pengendalian diri, namun waktu dan cara pelaksanaannya berbeda. Dalam agama Buddha, masih banyak ditemui umat Buddha yang belum menjalankan puasa. Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena beberapa sebab, antara lain: belum siap untuk berlatih (dalam ber-uposatha, terdapat delapan sila (peraturan) yang wajib dilaksanakan umat Buddha, salah satu aturannya yaitu tidak boleh berhubungan suami istri), serta tidak tahu bagaimana caranya berpuasa/ber-uposatha.
Pemeluk agama Buddha di pulau Jawa dan provinsi Lampung sebagian besar suku Jawa. Sementara di pulau Lombok merupakan suku Sasak. Daerah lain seperti; Jakarta, Kalimantan Barat, Riau, Riau Kepulauan mayoritas pemeluk agama Buddha dari berasal dari keturunan Cina sedangkan Sumatera Utara kecuali keturunan Cina juga dari keturunan India Tamil. Sejak tahun 1983 guru agama Buddha sudah mulai diangkat oleh pemerintah yang ditempatkan di berbagai wilayah di tanah air. Guru tersebut pada umumnya orang Jawa, yang sejak kecil sudah dikenalkan dan berlatih Uposatha bersama guru dan didukung oleh para orang tuanya. Puasa dijalankan setiap hari selama menjadi Pabbajitta. Bhikkhu Theravada menjalankan 227 sila patimokkha, Bhikkhuni Theravada 311 sila, Bhikkhu Mahayana 250 sila, dan Bhikhuni Mahayana 348 sila patimokkha, ini yang terdapat dalam Vinaya Pitaka.
Gharavasa (umat biasa) hanya berlatih 8 latihan moral, terdiri dari: Saya melatih diri menghindari pembunuhan; saya melatih diri menghindari pencurian; saya melatih diri menghindari aktivitas seksual dan hidup selibat; saya melatih diri menghindari ucapan salah; saya melatih diri menghindari minuman yang memabukan; saya melatih diri menghindari makan tidak pada waktu yang tepat; saya melatih diri menghindari tarian, nyanyian, musik, hiburan tidak pantas, perhiasan, kosmetik dan parfum; dan saya melatih diri menghindari tempat duduk serta tempat tidur yang tinggi dan mewah (Paritta suci, Atthangasila:59).
Seiring dengan makin banyaknya guru agama Buddha yang diangkat pemerintah, semakin banyak latihan Atthangasila dipraktekkan di semua daerah. Mereka dalam tim vihara bersama anggota sangha dan umat, mengadakan berbagai pelatihan mengisi liburan di dalamnya ada unsur uposatha antara lain: Pekan Penghayatan Dhamma (PPD), Pabbaja Samanera, Atthasilani, Vipasana Bhavana, Binawidya dan puasa menjelang perayaan Waisak. Lamanya berkisar 7 hari hingga satu bulan. Puasa yang wajib dilakukan umat gharavasa, 4 kali dalam satu bulan yaitu tanggal 1, 8, 15 dan 23 menurut kalender lunar. Jika dijumlahkan dalam satu tahun 48 kali berpuasa. Sebagian besar masyarakat Buddhis di Pulau Jawa sudah melaksanakan puasa tambahan (patihariya uposatha ) selama 15 hingga 30 hari menjelang Waisak. Cara berpuasa dalam Agama Buddha dimulai dari setelah pukul 06.00 pagi sampai dengan pukul 12.00 siang diperbolehkan makan dan minum. Setelah pukul 12.00 siang hingga pukul 6.00 pagi esok hari waktunya berpuasa.
Merujuk artikel dari www.halodoc.com, Uposatha ini memiliki manfaat yang bagus bagi kesehatan. Manfat-manfaat tersebut antara lain: mengurangi berat badan dan tingkat kolesterol, meningkatkan pembentukan sel syaraf, menurunkan resiko penyakit jantung, mengontrol gula darah, tubuh ideal dan meningkatkan hormon endorfin yang menimbulkan suasana hati bahagia. Secara spiritual manfaatnya seperti yang terdapat dalam Digha Nikaya: Maha Parinibbana Sutta, Guru Agung Buddha mengatakan : “Ia yang melaksanakan sila dengan baik , nama harumnya tersebar luas hingga sampai ke alam dewa, Ia akan memperoleh kekayaan lahir dan batin, tanpa ketakutan dan keraguan, Ia dipuji oleh orang bijaksana, meninggal dengan tenang dan terlahir di alam surga”.
Mengingat akan manfaat yang luar biasa tersebut, mari berlatih Uposatha, karena kita akan memperoleh manfaat secara medis. Dengan menjalankan Uposatha ini, kita akan semakin mendalami pentingnya menjaga moralitas, pentingnya menjaga pikiran, ucapan dan perbuatan. Yang pada akhirnya, dengan berlatih Uposatha, kita akan lebih seimbang batin dan jasmaninya.