Oleh: Septi Susanti, S.Pd.B
SMPS Pelopor Mandau
susantisepti19@gmail.com
Abstrak
Indonesia terkenal dengan negara yang besar dan pluralistik, Indonesia kaya dengan berbagai suku, budaya, dan mempunyai agama yang berbeda-beda (multireligius). Dengan kondisi ini menjadikan sebagai salah satu penyebab terjadinya banyak ketegangan dan konflik antar kelompok budaya, antar umat beragama yang berdampak pada keharmonisan hidup. Agama Buddha sebagai salah satu agama yang berkembang di Indonesia dan diakui secara resmi oleh pemerintah Indonesia memiliki dasar ajaran yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mewujudkan keharmonisan antar umat beragama. Tujuan penulisan ini adalah membahas ajaran cinta kasih universal yang diajarkan Buddha untuk dapat diterapkan oleh umat Buddha Indonesia sebagai upaya mewujudkan kedamaian bangsa Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka. Kesimpulan kajian ini adalah bahwa ajaran Buddha dengan dasar Cinta Kasih mengajarkan pada umatnya untuk hidup berdampingan dan saling menghormati dan mewujudkan harapan nyata “Semoga semua makhluk hidup berbahagia”.
Kata kunci: Moderasi beragama, Cinta Kasih
A. Pendahuluan
Agama Buddha merupakan salah satu agama resmi di Indonesia yang diakui di dalam-dalam undang-undang Negara Indonesia. Agama Buddha merupakan satu dari 6 agama resmi di Indonesia yang artinya warga Negara Indonesia yang menganut agama Buddha harus hidup berdampingan dengan warga Negara Indonesia lainnya yang menganut ajaran agama berbeda.
Harapan semua masyarakat Indonesia pastinya terciptanya kehidupan yang damai dan harmonis sesuai dengan dasar Negara Indonesia yang tertuang dalam Pancasila sila ketiga yang berbunyi Persatuan Indonesia. Namun pada kenyataannya konflik-konflik yang muncul di Indonesia yang dilatar belakangi perbedaan agama menjadi isu yang sangat sulit untuk diselesaikan. Untuk mencegah timbulnya konflik antar umat beragama pemerintah melalui Kementerian Agama berupaya dalam menciptakan keharmonisan itu, salah satu caranya yaitu penanaman pemahaman tentang moderasi beragama.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka fokus kajian artikel ini adalah untuk mengingatkan kembali kepada umat Buddha bahwa ajaran Buddha yang tertuang dalam kitab suci Tripitaka yang mengajarkan kepada kita umat Buddha untuk mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk sebagai upaya mewujudkan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan beragama.
B. Pembahasan
Moderasi menurut KBBI artinya ada dua, yaitu: (1) pengurangan kekerasan, dan (2) penghindaran keekstreman. Jadi jika dikatakan orang itu bersikap moderat, maka dapat diartikan orang itu bersikap wajar, biasa-biasa saja dan tidak ekstrim. Mantan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin pernah menyatakan bahwa “ada beberapa masyarakat kita yang terlalu tekstual dan fanatik dalam memahami ayat-ayat suci sehingga menjadi sangat eksklusif, ekstrem dan cenderung menebar teror. Kondisi ini rentan menciptakan konflik yang bisa mengoyak keharmonisan kehidupan bersama kita. Moderasi beragama penting diimplementasikan dalam mengelola kehidupan beragama masyarakat Indonesia yang sangat "Plural dan Multikultural”(Kemang.go.id. Sambutan Menag Pembukaan Rakernas 2019) .
Moderasi sangat erat kaitannya dengan toleransi, karena makna toleransi merupakan usaha yang sungguh-sungguh ,bersedia menghormati, menghargai dan menerima perbedaan yang ada pada orang lain atau agama lain. Dalam beragama, kesediaan menghormati, menghargai dan menerima seperti itu sama sekali tidak berarti mengurangi, atau menghilangkan dogma pokok-pokok dalam ajaran agama . Moderasi beragama sama sekali bukan berarti kita melakukan kompromi untuk menukarkan aqidah atau keyakinan, akan tetapi saling menghormati, saling menghargai, saling mendengarkan tentang agama dan keyakinan orang lain. Intinya lebih mencari titik temu ajaran agama, dari pada memperbesar perbedaan agama dan ajaran agama. Sejak awal kita sudah berbeda, maka perbedaan bukan menjadi faktor tidak bisa mewujudkan kerukunan, malah sebaliknya dengan perbedaan kita buktikan dapat rukun dan damai.
Moderasi beragama menjadi sangat penting untuk diterapkan oleh kita sebagai warga Indonesia dimana Indonesia terkenal dengan negara yang besar dan pluralistik, Indonesia kaya dengan berbagai suku, budaya, dan mempunyai agama yang berbeda-beda (multireligius).
Salah satu ajaran paling dasar dalam agama Buddha adalah pengembangan cinta kasih kepada semua makhluk, seperti yang tertuang dalam petikan syair dalam Karaniya Metta Sutta berikut ini:
Mettañca sabbalokasmi?, m?nasambh?vaye aparim??a?,
uddha? adho ca tiriyañca, asamb?dha? avera? asappatta?’ti
yang memiliki arti:
Cinta kasih terhadap makhluk di segenap alam patut dikembangkan tanpa batas dalam batin baik ke arah atas, bawah, dan diantaranya tidak sempit, tanpa kedengkian, tanpa permusuhan.
Konsep pemahaman cinta kasih universal ini diajarkan Buddha dengan hidup tanpa kedengkian, tanpa permusuhan yang harus kita kembangkan kepada siapa saja tanpa mengenal perbedaan agama, suku, ras dan budaya.
Moderasi beragama dapat terwujud apabila dalam kehidupan beragama tidak muncul konflik. Buddha menganjurkan,”Terdapat enam Dharma yang bertujuan agar kita saling mengingat, saling mencintai, saling menghormati, saling menolong, saling menghindari percekcokan, yang akan menunjang kerukunan persatuan dan kesatuan. Keenam Dharma itu adalah:
- Memancarkan cinta kasih (metta) dalam perbuatan kita sehari-hari, maka kedamaian, keharmonisan dan kerukunan dan persatuan akan terwujud.
- Menggunakan cinta kasih dalam setiap ucapan berbicara dengan etikat baik, tak menyebarkan isu, gossip dan fitnahan.
- Selalu mengarahkan pikiran pada kebajikan, sama sekali tidak menginginkan orang lain celaka.
- Menerima buah karma yang baik, kebahagiaan, berusaha tidak serakah dan memberikan kebahagiaan tersebut pada orang lain dan rasa kepedulian sosial.
- Melaksanakan moral (sila), etika dengan sungguh-sungguh dalam pergaulan bermasyarakat. Tidak berbuat sesuatu yang melukai perasaan orang lain.
- Mempunyai pandangan yang sama, yang bersifat membebaskan diri dari penderitaan dan membawanya berbuat sesuai dengan pandangan tersebut, hidup harmonis, tidak bertengkar karena perbedaan pandangan (Angguttara Nikaya III, 288-289).
Berdasarkan 6 Dhamma tersebut di atas umat Buddha diajarkan untuk mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk yang diterapkan dalam wujud perilaku kehidupan sehari-hari. Sehingga segala bentuk tindakan umat Buddha baik secara perbuatan maupun ucapan selalu berlandaskan cinta kasih tidak menyakiti siapapun juga.
C. Penutup
Ajaran Buddha berorientasi untuk mencapai kebahagiaan, dimana kebahagiaan itu dapat kita capai dengan menghilangkan segala akar kejahatan yaitu keserakahan, kebencian dan kebodohan, dimana ketiga akar permasalah ini dapat kita lenyapkan dengan mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk. Cinta kasih dalam ajaran Buddha kita kembangkan juga sebagai dasar kita untuk menghormati kepercayaan orang lain. Oleh karena itu dengan mempraktikkan ajaran Buddha yang tertuang dalam petikan-petikan sutta, semua umat Buddha dapat bersama-sama menjaga dan merawat kerukunan dengan saling menghormati satu sama lain. Sehingga dengan dasar cinta kasih umat Buddha hadir dan mendukung praktik moderasi beragama, khususnya di Indonesia demi terciptanya kehidupan yang harmonis.
Daftar Pustaka:
- UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945
- https://kbbi.kemdikbud.go.id/
- Potensi Konflik Keagamaan, Artikel Bahan Ajar PPG Agama Buddha 2022
- https://balitbangdiklat.kemenag.go.id/upload/files/Buku_Saku_Moderasi_Beragama-min.pdf
- Tipitaka, Petikan Anguttara Nikaya Kitab Suci Agama Buddha, Ed.1 Cet.1 terj. Nyanaponika Thera dan Bhikkhu Bodhi. Klaten: Dhammaguna, 2001.